Kutim

Dari Cempaka Putih ke Eropa, Ini Cara Baru PSSI Mendidik Calon Bintang Sepak Bola Indonesia

$rows[judul] Keterangan Gambar : PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) dengan Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) menggelar Coaching Clinic, didukung Indomilk Susu Steril.

JAKARTA, denai.id - Suasana ASIOP Stadium, Cempaka Putih, akhir November lalu terasa berbeda. Di tengah riuh suara peluit dan bola yang terus bergulir, puluhan anak-anak menjalani latihan dengan pendekatan yang tak biasa. Mereka tidak sekadar mengulang teknik, tetapi diajak berpikir, mengambil keputusan, dan membaca permainan layaknya pertandingan sesungguhnya.

Itulah warna utama Coaching Clinic hasil kolaborasi PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) dengan Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB), yang didukung Indomilk Susu Steril. Program ini digelar pada 25–26 November 2025 dan menjadi bagian lanjutan kerja sama resmi PSSI-KNVB yang diteken sejak 2024.

Untuk pertama kalinya digelar di Jakarta setelah sebelumnya berlangsung di Timika, coaching clinic ini menghadirkan dua instruktur berlisensi UEFA A dari KNVB, Bert Zuurman dan Andre Simmelink. Keduanya membawa filosofi sepak bola Belanda yang menempatkan permainan sebagai inti pembelajaran.

Bukan sekadar latihan barisan atau teknik statis. Anak-anak dilatih melalui game-based learning, skema kecil seperti empat lawan empat, serta latihan transisi positif dan negatif. Pendekatan ini menuntut pemain berpikir cepat, memilih keputusan tepat, dan berani bertanggung jawab terhadap bola.

Sebanyak 100 peserta dari kelompok usia muda ikut merasakan langsung metode tersebut. Salah satunya Dafa, penjaga gawang 13 tahun. Ia mengaku mendapat banyak pelajaran baru, terutama soal dasar permainan dan komunikasi di lapangan. “Kami belajar passing, shooting, dan bagaimana transisi saat menyerang atau bertahan,” katanya.

Bert Zuurman menilai antusiasme peserta menjadi faktor kunci sukses kegiatan ini. Fasilitas latihan yang memadai juga menunjang proses pembelajaran. Ia bahkan mendorong agar ke depan jumlah peserta perempuan bisa diperbanyak, seiring berkembangnya sepak bola putri di Indonesia.

Sementara Andre Simmelink menegaskan bahwa latihan harus selalu terhubung dengan situasi nyata di pertandingan. “Anda belajar sepak bola dengan bermain sepak bola. Pengambilan keputusan hanya bisa dilatih dalam kondisi permainan sesungguhnya,” ujarnya.

Tak hanya untuk pemain, program ini juga menyasar peningkatan kualitas pelatih. Andre menilai kesinambungan pendidikan pelatih menjadi faktor krusial agar metode ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Materi yang didapat harus terus dipraktikkan di lingkungan masing-masing. (nad)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)